Makna kata
{ ٱلۡمَلَإِ } Al-Mala’: Para pembesar kaum yang menjadi pengambil keputusan. Jika seseorang memandang kepada mereka, akan terkesima dan menghormatinya.
{ عَسَيۡ } ‘Asâ: Kata yang berisikan pengharapan akan terjadinya sesuatu.
{ كُتِبَ } Kutiba: Diwajibkan atau diharuskan
Makna ayat
Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk berperang, dan dimulailah peperangan yang diawali oleh perang Badr yang membutuhkan harta, pasukan, pemberani dan pahlawan. Jadilah situasi ini sebagai bentuk ujian terhadap semangat yang menggelora dan menguras emosi untuk mempersatukan jamaah kaum muslimin di Madinah, demi menghadapi peperangan dengan orang Arab dan Non arab (‘ajam) bersamaan. Dari sinilah nampak bahwa pengecut dan bakil (pelit) itu merupakan sifat yang buruk bagi lelaki.
Allah Ta’ala mengisahkan kisah orang-orang yang lari dari kematian, meninggalkan rumah-rumah mereka untuk hal lain, bagaimana Allah Ta’ala mematikan mereka dan tidak bermanfaat pelariannya, kemudian Allah menghidupkan mereka agar menjadi pelajaran untuk mereka dan yang lainnya, bahwa lari dari kematian tidak menghasilkan apapun. Namun hanya kesabaran dan keteguhan menunggu datangnya pertolongan lah yang bermanfaat bagi mereka.
Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin setelah melihat gambaran dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dengan firman Nya,”Dan berperanglah kalian di jalan Allah.” Ketika pengorbanan harta (infak, pent) didahulukan dalam persiapan peperangan, maka Allah Ta’ala mengganti harta itu dengan melipatgandakan keuntungan dari pinjaman dengan syarat dikeluarkan dengan ikhlas dan penuh kerelaan.
Kemudian Allah Ta’ala memperlihatkan kepada mereka kejadian lain yang juga penuh pelajaran untuk orang-orang muslim yang selalu diserang oleh bangsa-bangsa lain baik berkulit putih atau merah sepanjang masa, Allah Ta’ala berfirman kepada mereka dengan menyebutkan kepribadian nabinya,”Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka,”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”
Maksudnya, belum sampaikah informasi kepadamu mengenai perkataan para pemuka Bani Israil setelah wafatnya Nabi Musa kepada nabi mereka,”Utuslah kepada kami seorang raja sehingga kami dapat berperang di jalan Allah dan mengusir musuh-musuh kami dari negeri kami dan mengembalikan kekuasaan kami, sehingga kami dapat menerapkan syariat rabb kami.”
Melihat kepada kelemahan mereka secara rohani dan jasmani serta materi, Nabi ini merasa takut jika permintaan mereka hanya sekedar omongan belaka, maka ia berkata,”Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang.” Yaitu setelah diangkatnya raja sekaligus pemimpin mereka tidak mau berperang?!
Maka fanatisme mereka bangkit dan mengatakan,”Mengapa kami tidak mau berperang sedangkan kami telah terusir dari negeri kami dan terpisah dari anak-anak kami.” Saat itu musuh mereka adalah orang-orang Babilonia, mereka menyerang Palestina tatkala Bani Israil melenceng dari syariat agamanya, para wanita mempertontonkan auratnya, merebaknya zina dan riba, dan meninggalkan kitabnya dan berpaling dari petunjuk nabinya, maka Allah menimpakan hukuman dengan cara mereka dikalahkan oleh musuhnya dan terusir menjadi pengungsi di negeri orang.
Maka Nabi Syamuel mengutus seorang lelaki dari golongan mereka yang sudah hidup segan mati pun tak mau itu yaitu Thalut sebagai pemimpin mereka. Ketika semakin dekat dengan tempat peperangan mereka takut dan mundur sebagian besarnya, kalah sebelum bertanding. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh nabi mereka berdasarkan firasat yang didapatkannya tatkala mengatakan,”Mungkin sekali jika kamu nanti diajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Inilah kandungan ayat yang pertama (246) dalam kisah ini.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Catatan Kata
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Catatan Paragraf
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.