Makna kata
{ قَرۡيَةٖ } Qaryah: Sebuah kota yang tidak diberitahukan namanya oleh Allah, maka tidak perlu mencarinya karena tidak terlalu penting mengetahuinya.
{ خَاوِيَةٌ } Khawiyah: Kosong dari penduduknya dan atapnya berjatuhan ke dalam bangunan dan dinding-dindingnya.
{ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ } Anna yuhyi: Bagaimana Allah menghidupkannya { بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ } Ba'da mautihâ: Setelah kosong dan roboh atap-atapnya { لَبِثۡتَۖ } Labitstu: Saya telah tinggal. { لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ } Lam yatasannah: Tidak berubah dengan berlalunya waktu. { ءَايَةٗ } âyat: Tanda akan kekuasaan Allah dengan membangkitkan manusia dalam keadaan hidup pada hari kiamat. { نُنشِزُهَا } Nunsyizuhâ: Dalam qiraah Warsy lafadznya “Nansyuruhâ” yang bermakna Kami hidupkan setelah kematiannya. Sedangkan makna “Nunsyizuhâ” adalah kami angkat dan kami kumpulkan kembali sehingga menjadi keledai seperti sebelumnya.
Makna ayat
Ayat ini mengandung contoh yang lain masih berhubungan dengan contoh sebelumnya. Menunjukkan hakikat perlindungan Allah kepada Ibrahim, dimana Allah menguatkannya dengan hujjah yang tegas dan pertolonganNya terhadap musuhnya yaitu Namrud. Allah Ta'ala berfirman; “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.” Atau seperti orang yang melewati negeri yang kosong ditinggalkan penduduknya, atap-atap bangunannya telah berjatuhan menimpa tembok-temboknya, maka orang yang lewat itu berkata dengan penuh keheranan,”Bagaimana Allah menghidupkan negeri ini setelah hancur seperti ini?” maka Allah mematikannya selama seratus tahun kemudian menghidupkannya, dan bertanya kepadanya,”Berapa lama kamu tinggal (tidur)?” ia menjawab,”Sebagaimana biasa orang tertidur di suatu hari dan bangun pada hari itu juga.” Ia menyangka dirinya tertidur sehari atau setengah hari. Maka Allah meluruskannya,”Bahkan kamu tidur sudah seratus tahun.” Agar ia percaya dengan berita yang diberikan maka Allah menyuruhnya untuk melihat makanannya sekeranjang buah tin, dan minumanmu berupa jus buah anggur, keduanya tidak berubah rasanya, warnanya padahal telah berlalu satu abad. Maka lihatlah keledaimu sudah hancur dengan berlalunya waktu dan tidak tersisa kecuali tulangnya yang putih. Ini adalah dalil yang tegas akan kematian keledainya setelah lewat waktu seratus tahun. Kemudian lihatlah sekali lagi kepada tulang belulang itu, bagaimana Kami mengumpulkannya dan membungkusnya lagi dengan daging, maka itulah keledaimu yang engkau tunggangi seratus tahun yang lalu dan engkau tinggalkan tertidur sedangkan hewan itu berada di sampingmu makan rumput. Maka nampaklah kekuasaan Allah untuk tidak mengubah makanan dan minuman itu yang biasanya sehari saja sudah menjadi basi, dan terbukti juga pada keledai yang biasanya akan berubah setelah puluhan tahun. Kemudian kekuasaan Allah juga nampak pada pemilik makanan dan keledai itu dengan kematiannya lantas hidup kembali dan tidak ada yang mengetahuinya pada waktu seratus tahun. Allah Ta'ala berfirman kepadanya setelah menunjukkan berbagai macam kekuasaanNya,”Kami melakukan ini kepadamu untuk memperlihatkan kepadamu kekuasaan Kami dengan menghidupkan kembali suatu negeri, dan Kami ingin menghidupkanmu kembali agar kisahmu ini menjadi bukti bagi manusia, membimbing mereka agar beriman kepada Kami dan bertauhid dalam beribadah kepada Kami, dan juga menunjukkan kekuasaan Kami untuk membangkitkan kembali yang tidak diragukan lagi padanya, agar setiap jiwa mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuat. Setelah cahaya Allah menyinari hati hamba yang mukmin ini, yang semula heran dengan kehancuran negeri dan tidak mungkin menurut persangkaannya untuk dibangun kembali, akhirnya mengatakan,”Sekarang aku mengetahui bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu.” Ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala; “Allah adalah penolong orang-orang yang beriman yang akan mengeluarkan mereka dari berbagai macam kegelapan menuju kepada cahaya.”
Pelajaran dari ayat
• Diperbolehkan bagi seorang hamba memiliki keyakinan bahwa sesuatu yang benar dan ada itu sulit terjadi, seperti yang terjadi pada hamba mukmin yang lewat negeri itu berkeyakinan bahwa negeri yang sudah kosong dan hancur itu tidak dapat dihidupkan kembali.
• Besarnya kekuasaan Allah dimana tidak ada sesuatu apapun yang dapat menandingiNya, Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.
• Ketetapan mengenai kebangkitan manusia dan itu pasti terjadi.
• Pertolongan Allah kepada hambaNya yang mukmin yang bertakwa terlihat ketika Allah menghilangkan kegelapan yang ada pada hati seorang mukmin yang merasa bahwa sulit bagi Allah untuk menghidupkan kembali negeri yang mati. Maka Allah memperlihatkan kekuasaanNya kepada hamba itu sehingga ia mengatakan,”Aku mengetahui bahwa Allah itu kuasa atas segala sesuatu.”
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Catatan Kata
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Catatan Paragraf
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.