Makna Kata GHAIRA BĀGHIN
Selanjutnya Allah SWT memperbolehkan makan semua yang disebutkan tadi dalam keadaan darurat dan sangat diperlukan bila makanan yang lainnya tidak didapati. Untuk itu Allah SWT berfirman:
{فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ}
{#Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedangkan ia tidak maksiat dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.#} (Al-Baqarah, [2:173])
Yakni bukan dalam keadaan maksiat, bukan pula dalam keadaan melampaui batas; tidak ada dosa baginya makan apa yang telah disebutkan.
{اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}
{#Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.#} (Al-Baqarah, [2:173])
Mujahid mengatakan, {#Barang siapa yang tidak maksiat dan tidak pula melampaui batas#} (Al-Baqarah, [2:173]), yakni bukan dalam keadaan sebagai pembegal jalan (rampok), atau memberontak terhadap imam (penguasa), atau bepergian untuk tujuan maksiat terhadap Allah, diperbolehkan baginya memakannya. Tetapi barang siapa yang bepergian karena memberontak atau melampaui batas atau berbuat maksiat kepada Allah, tidak ada rukhsah (dispensasi) baginya, sekalipun ia dalam keadaan darurat." Hal yang sama dikatakan pula menurut suatu riwayat yang bersumber dari Sa'id ibnu Jubair.
Makna Kata GHAIRA BĀGHIN (Lanjutan)
Sa'id di dalam riwayat yang lain dan Muqatil mengatakan, yang dimaksud dengan GHAIRA BĀGHIN ialah tidak menghalalkannya.
As-Saddi mengatakan bahwa GHAIRA BĀGHIN artinya bukan karena memperturutkan selera ingin memakannya.
Adam ibnu Abi Iyas mengatakan, telah menceritakan kepada kami Damrah, dari Usman ibnu Ata (yakni Al-Khurrasani), dari ayahnya yang mengatakan bahwa seseorang tidak boleh memanggang sebagian dari bangkai itu untuk membuatnya berselera memakannya, tidak boleh pula memasaknya serta tidak boleh memakannya kecuali hanya sedikit, tetapi ia boleh membawanya sampai ia dapat menemukan makanan yang halal. Apabila ia telah menemukan makanan yang halal, ia harus membuangnya. Demikianlah yang dimaksud oleh firman-Nya, WA LĀ 'ĀDIN yakni tidak boleh melampaui batas dalam memakannya bila telah menemukan yang halal.
Makna Kata WA LĀ 'ĀDIN
Dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa makna WA LĀ 'ĀDIN ialah tidak boleh sekenyangnya. Sedangkan As-Saddi menafsirkannya dengan makna AL 'UDWAN, yakni melampaui batas.
Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa GHAIRA BĀGHIN yakni tidak menginginkan bangkai tersebut, WA LĀ 'ĀDIN artinya dan tidak melampaui batas dalam memakannya.
Qatadah mengatakan bahwa GHAIRA BĀGHIN artinya tidak menginginkan bangkai tersebut, yakni ketika keadaan memaksanya untuk memakan bangkai, ia memakannya tidak melampaui batas garis-garis yang dihalalkan sampai kepada batas yang diharamkan, padahal ia mempunyai jalan keluar dari itu.
Hadis Nabi SAW
Al-Qurtubi meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya).#} (Al-Baqarah, [2:173]) Yakni dipaksa untuk memakannya tanpa ada kemauan dari dirinya sendiri.
Apabila orang yang dalam keadaan terpaksa (darurat) menemukan suatu bangkai dan makanan milik orang lain, sekiranya tidak ada hukum potong tangan dalam mengambilnya dan tidak pula hukuman lainnya (ta'zir), maka tidak dihalalkan baginya memakan bangkai, melainkan ia boleh memakan makanan milik orang lain itu. Semua ulama sepakat, tanpa ada yang memperselisihkannya.
Hadis Nabi SAW (Lanjutan)
Selanjutnya disebutkan, apabila dia memakannya dalam keadaan demikian, lalu apakah dia harus menggantinya atau tidak? Sebagai jawabannya ada dua pendapat, yang keduanya merupakan dua riwayat dari Imam Malik.
Selanjutnya diketengahkan sebuah hadis dari Sunan Ibnu Majah, melalui hadis Syu'bah, dari Abu Iyas, dari Ja'far ibnu Abu Wahsyiyyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Syurahbil Al-Anazi menceritakan hadis berikut, "Ketika tahun paceklik menimpa kami, aku datang ke Madinah, lalu aku memasuki sebuah kebun dan mengambil setangkai buah kurma. Aku memakannya, dan selebihnya aku masukkan ke dalam kantong bajuku. Ternyata pemilik kebun itu datang, maka dia memukuliku dan merampas bajuku. Lalu aku datang kepada Rasulullah SAW dan kuceritakan kepadanya hal tersebut Maka beliau SAW bersabda kepada pemilik kebun: 'Kamu tidak memberinya makan ketika dia sedang kelaparan dan dalam keadaan tidak bermata pencaharian, dan kamu tidak mengajarnya sewaktu dia tidak mengerti (bodoh).' Lalu Nabi SAW memerintahkan kepadanya agar mengembalikan pakaian lelaki itu, dan Nabi SAW memerintahkan pula agar diberikan kepada si pemilik kebun satu wasaq atau setengah wasaq makanan (sebagai gantinya)."
Hadis Nabi SAW (Lanjutan)
Sanad hadis ini sahih, kuat lagi jayyid dan mempunyai banyak syawahid lainnya yang memperkuatnya. Termasuk ke dalam bab ini hadis lain yang diriwayatkan melalui hadis Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai buah-buahan yang bergantung pada pohonnya. Maka beliau SAW menjawab:
{مَنْ اَصَابَ مِنْهُ مِنْ ذِيْ حَاجَةٍ بِفِيْهِ غَيْرَ مُتَّخِذٍ خُبْنَةً فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ}
{#"Barang siapa yang mengambil sebagian darinya cukup untuk makannya sendiri, sedangkan dia dalam keadaan miskin serta tidak mengambil bekal darinya, tidak ada dosa baginya...,"#} hingga akhir hadis.
Makna Ayat
Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {#maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.#} (Al-Baqarah, [2:173]) Yakni tidak ada dosa baginya karena memakan makanan itu, sebab dia dalam keadaan terpaksa. Telah sampai kepada kami suatu riwayat -hanya Allah Yang Mengetahui- bahwa makanan tersebut tidak boleh lebih dari tiga suap.
Makna Ayat (Lanjutan)
Menurut Sa'id ibnu Jubair, makna ayat adalah sebagai berikut: "Allah Maha Pengampun terhadap apa yang telah dimakannya dari barang yang haram, lagi Maha Penyayang karena Dia telah menghalalkan baginya barang yang haram dalam keadaan terpaksa."
Waki' mengatakan bahwa Al-A'masy menceritakan kepada kami, dari Abud-Duha, dari Masruq yang mengatakan, "Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa, lalu dia tidak mau makan dan minum, kemudian berakibat kepada kematiannya, maka dia masuk neraka." Pendapat ini menunjukkan bahwa memakan bangkai bagi orang yang dalam keadaan terpaksa merupakan azimah (keharusan), bukan rukhsah (dispensasi).
Makna Ayat (Lanjutan)
Abul Hasan At-Tabari yang dikenal dengan nama Kayalharasi (sahabat karib Imam Gazali) di dalam kitab Al-Istigal-nya. mengatakan, "Menurut pendapat yang sahih di kalangan kami, masalah ini sama halnya dengan berbuka puasa bagi orang yang sakit dan karena penyebab lainnya yang membolehkannya berbuka puasa."
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.