Makna kata
{ مَثَلُ } Matsal : Sifat dan keadaan
{ يَنۡعِقُ } Yan’iqu : Berteriak dengan keras, pelakunya disebut Na’iq yaitu orang yang berteriak dan bersuara keras.
{ الدُعَآء } ad-Du’aa : Memanggil Dzat yang dekat (berdoa) , seperti doa seorang mukmin tatkala kepada Rabb-Nya dengan mengatakan “Ya Rabb..Ya Rabb”.
{ النداء } an-Nidaa’ : Memanggil sesuatu yang jauh seperti halnya adzan sebagai panggilan untuk shalat.
{ الصُّمُّ } ash-Shumm : Kata ‘Shumm’ bentuk jamaknya adalah Ashomm, yaitu orang yang tidak dapat mendengar (tuli).
{ البُكْمُ } al-Bukmu : Kata ‘Bukmun’ bentuk jamaknya adalah ‘Abkam’, yaitu orang yang tidak bisa berbicara (bisu).
{ لَا يَعۡقِلُونَ } Laa ya’qiluun : Tidak dapat memahami makna perkataan dan tidak bisa membedakan antara beberapa hal, karena tidak berfungsinya indera untuk memahami dan mengetahui yang ada pada mereka, yaitu akal pikiran.
Makna ayat
Ayat ini masih berkaitan dengan ayat sebelumnya (170) yang mana menjelaskan mengenai taqlid dan orang-orang yang bertaqlid, dimana mereka kehilangan akal dan perasaannya. Mereka mau melakukan apa yang diucapkan oleh para pemimpinnya dan menjalankan apa yang mereka perintahkan, tunduk dan patuh tanpa mempertanyakan mengapa mereka melakukan sesuatu atau mengapa meninggalkan sesuatu. Maka ayat ini turun dengan gambaran yang begitu menakjuban dan permisalan yang aneh, mengenai orang-orang yang menanggalkan akal pikirannya dan lebih memilih untuk menjadi pembebek dalam segala hal. Sampai-sampai diumpamakan mereka seperti kambing yang terkekang, dikendalikan kemana saja oleh penggembalanya dengan bebasnya. Apabila penggembala memanggilnya, ia akan selalu datang, walaupun penggembala itu memanggilnya untuk disembelih. Apabila penggembala memanggilnya dari tempat yang jauh maka ia akan memenuhi panggilannya, sedangkan ia tidak tahu untuk apa dipanggil, karena ia tidak mendengar dan memahami kecuali hanya sekadar suara yang ia tiru (taklid) dan ia ikuti tanpa adanya dalil. Allah Ta’ala berfirman (وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ) “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir....” dalam hal kejumudan dan taqlid mereka kepada bapak-bapaknya dalam kesyirikan dan kesesatan, seperti kambing yang dipanggil oleh penggembala yang menjaganya. Jika penggembala memanggilnya baik dari jarak dekat ataupun jarak jauh, selagi dapat mendengarnya akan mendatanginya, walaupun tidak tahu untuk apa dipanggil karena telah kehilangan akal pikirannya. Perumpamaan ini cocok untuk orang yang mencoba mengajak orang-orang kafir dan orang-orang sesat untuk beriman dan kembali ke jalan hidayah. Maka orang itu bersama dengan orang-orang yang diajaknya dari kalangan orang kafir, orang bertaqlid, dan orang yang sesat serta jumud, seperti halnya gembala yang memanggil hewan ternaknya yang tidak mendengar selain panggilan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka dari itu mereka tidak mengerti.
Pelajaran dari ayat
- Hiburan bagi orang yang berdakwah di jalan Allah ketika menghadapi orang-orang yang hanya bisa taqlid dari kalangan pelaku kesyirikan dan kesesatan.
- Keharaman untuk bertaqlid kepada ahli bid’ah dan pemuja hawa nafsunya.
- Kewajban untuk mencari ilmu dan pengetahuan agar seorang mukmin ketika melakukan atau meninggalkan sesuatu, berasal dari ilmu tentang apa yang dilakukan atau ditinggalkan.
- Tidak boleh untuk diikuti kecuali kepada ahli ilmu dan pengetahuan dalam agama, karena mengikuti (ittiba’) orang-orang bodoh termasuk taqlid.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Catatan Kata
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Catatan Paragraf
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.