Makna Kata
Baitullah
Baitullah adalah rumah suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS atas perintah Allah SWT. Baitullah ini merupakan tempat ibadah bagi umat Islam dan merupakan pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia.
Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang pernah dijadikan sebagai tangga tempat berdiri Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka'bah. Batu ini masih tetap terkenal hingga saat ini dan merupakan tempat yang sangat penting bagi umat Islam.
Tawaf
Tawaf adalah salah satu ritual ibadah yang dilakukan oleh umat Islam ketika berada di Baitullah. Tawaf ini dilakukan dengan berputar-putar di sekitar Ka'bah dan merupakan salah satu cara untuk menunjukkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah SWT.
I'tikaf
I'tikaf adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. I'tikaf ini dilakukan dengan berdiam diri di Masjidil Haram dan berdoa kepada Allah SWT.
Rukuk dan Sujud
Rukuk dan sujud adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Rukuk dan sujud ini dilakukan dengan berdiri di depan Allah SWT dan berdoa kepada-Nya.
Makna Ayat
Ayat 125
Ayat 125 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis.
Ayat 126
Ayat 126 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Bersihkanlah rumah-Ku oleh kamu berdua#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk membersihkan Baitullah dari berhala-berhala dan patung-patung.
Ayat 127
Ayat 127 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari orang-orang yang tidak rukuk dan tidak sujud.
Kesimpulan
Kesimpulan dari makna kata dan makna ayat di atas adalah bahwa Baitullah merupakan tempat ibadah bagi umat Islam dan merupakan pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia. Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang pernah dijadikan sebagai tangga tempat berdiri Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka'bah. Tawaf dan i'tikaf adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Rukuk dan sujud adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis, membersihkan Baitullah dari berhala-berhala dan patung-patung, dan menyucikan Baitullah dari orang-orang yang tidak rukuk dan tidak sujud.
Pelajaran dari Ayat
Ayat 125
Ayat 125 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis.
Ayat 126
Ayat 126 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Bersihkanlah rumah-Ku oleh kamu berdua#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk membersihkan Baitullah dari berhala-berhala dan patung-patung.
Ayat 127
Ayat 127 dari surat Al-Baqarah berbunyi: {#Orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud#} (Al-Baqarah, [2:125]) Ayat ini berarti bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari orang-orang yang tidak rukuk dan tidak sujud.
Kesimpulan
Kesimpulan dari pelajaran dari ayat di atas adalah bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis, membersihkan Baitullah dari berhala-berhala dan patung-patung, dan menyucikan Baitullah dari orang-orang yang tidak rukuk dan tidak sujud.
Kesimpulan Akhir
Kesimpulan akhir dari makna kata, makna ayat, dan pelajaran dari ayat di atas adalah bahwa Baitullah merupakan tempat ibadah bagi umat Islam dan merupakan pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia. Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang pernah dijadikan sebagai tangga tempat berdiri Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka'bah. Tawaf dan i'tikaf adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Rukuk dan sujud adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk menyucikan Baitullah dari kotoran dan najis, membersihkan Baitullah dari berhala-berhala dan patung-patung, dan menyucikan Baitullah dari orang-orang yang tidak rukuk dan tidak sujud.
Makna Ayat
Sedangkan di dalam ayat ini (Al-Hajj, [22:25]) tidak disebutkan rukuk, sujud, dan qiyam, tetapi hanya disebutkan THĀ-IFĪN dan 'ĀKIFĪN, karena sesungguhnya telah diketahui bahwa tiada rukuk dan tiada sujud melainkan sesudah qiyam (berdiri). Di dalam ayat ini terkandung pula bantahan terhadap orang-orang yang tidak mau berhaji kepadanya dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena sesungguhnya mereka mengakui keutamaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan mereka pun mengetahui bahwa rumah itu (Baitullah) dibangun untuk tawaf dalam ibadah haji dan umrah serta ibadah lainnya; juga untuk i'tikaf serta melakukan salat padanya, sedangkan mereka tidak mengerjakan sesuatu pun dari hal tersebut. Maria mungkin mereka dinamakan sebagai orang-orang yang menganut agama Nabi Ibrahim, sedangkan mereka sendiri tidak mengerjakan apa yang telah disyariatkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim?
Makna Ayat Lainnya
Sesungguhnya Nabi Musa ibnu Imran serta nabi-nabi lainnya telah melakukan haji ke Baitullah, seperti yang telah diberitakan oleh orang yang di-ma'sum yang tidak sekali-kali berbicara dari dirinya sendiri melainkan hanya semata-mata wahyu yang diturunkan kepadanya.
Makna Ayat
Dengan demikian, berarti makna ayat adalah seperti berikut {#wa 'ahidnā ilā ibrāhīma#}, Kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail melalui wahyu kami, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang rukuk, dan yang sujud." Dengan kata lain, bersihkanlah rumah-Ku dari kemusyrikan dan keraguan, dan bangunlah rumah-Ku dengan ikhlas karena Allah, yang kelak akan menjadi tempat bagi orang-orang yang i'tikaf, yang tawaf, yang rukuk, dan yang sujud.
Pengertian Menyucikan Masjid
Pengertian menyucikan masjid diambil dari ayat ini dan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:
{فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ}
{#Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang.#} (An-Nur, [24:36])
Dalil dari Sunnah
Sedangkan dalil dari sunnah banyak hadis yang memerintahkan membersihkan masjid-masjid dan memberinya wewangian serta lain-lainnya, seperti membersihkannya dari kotoran dan najis-najis serta hal-hal yang serupa dengannya. Karena itu, Nabi SAW pernah bersabda:
{اِنَّمَا بُنِيَتِ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ}
{#"Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun hanya untuk tujuan yang sesuai dengan fungsinya."#}
Pembahasan Lainnya
Sesungguhnya kami menghimpun pembahasan ini dalam sebuah kitab tersendiri secara rinci.
Orang yang Mula-Mula Membangun Ka'bah
Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mula-mula membangun Ka'bah. Menurut suatu pendapat, yang mula-mula membangun Ka'bah adalah para malaikat Hal ini diriwayatkan melalui Abu Ja'far Al-Baqir, yaitu Muhammad ibnu Ali ibnul Husain; Imam Qurtubi menyebutkannya dan mengetengahkan riwayat tersebut, tetapi di dalamnya terkandung garabah (keanehan).
Menurut pendapat yang lain, orang yang mula-mula membangun Ka'bah adalah Nabi Adam AS. Demikianlah menurut riwayat Abdur Razzaq, dari Ibnu Juraij, dari Ata dan Sa'id ibnul Musayyab serta lain-lainnya. Disebutkan bahwa Nabi Adamlah yang mula-mula membangunnya dari lima buah gunung, yaitu dari Gunung Hira, Gunung Tursina, Gunung Tur Zaitan, Gunung Libanon, dan Gunung Al-Judi. Akan tetapi, riwayat ini garib sekali.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka'b Al-Ahbar dan Qatadah, dari Wahb ibnu Munabbih, bahwa orang yang mula-mula membangunnya ialah Nabi Syis AS.
Kebanyakan orang-orang yang mengetengahkan riwayat masalah ini mengambil sumber dari kitab-kitab kaum ahli kitab. Hal tersebut merupakan suatu topik yang tidak boleh dibenarkan, tidak boleh didustakan, tidak boleh pula dijadikan sebagai pegangan hanya berlandaskan ia semata. Jika ada hadis sahih yang menceritakan hal tersebut, maka dengan senang hati harus diterima.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.