Makna Ayat
Ayat ini menjadi teguran bagi orang-orang musyrikin “Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka (kaum musyrikin) berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?”. Apabila mereka melakukan perjalanan menuju utara, pergi ke daerah Syam dalam rangka berdagang, maka mereka akan melewati دِيَار ثَمُوْد ‘tempat tinggal kaum Tsamud’. Mereka akan melihat bekas-bekas suatu kaum yang kuat yang dibinasakan oleh Allah ﷻ. Mereka mengetahui cerita tentang kaum Tsamud yang sangat masyhur itu. Apabila mereka melakukan perjalan ke arah selatan, pergi ke negeri Yaman, maka mereka akan melewati bekas puing-puing bangunan kaum ‘Ad. Mereka juga mengetahui kisah tentang kaum ‘Ad. Karena kaum ‘Ad dan Tsamud dari suku Arab yang dulu begitu hebat, besar dan terkenal di seantero Jazirah, namun hancur dibinasakan oleh Allah ﷻ.
Tanda-Tanda bagi Orang yang Berakal
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَى
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
Tentunya, hanya orang-orang yang menggunakan akal mereka lah yang mampu mengambil pelajaran bagaimana kedahsyatan Allah ﷻ membinasakan kaum tersebut.
Peringatan bagi Manusia
Seakan-akan Allah ﷻ mengingatkan kepada mereka, “Kalian (wahai kaum musyrikin Quraisy) apakah merasa aman dari pada azab? Padahal, kalian tidak lebih baik dari kaum-kaum tersebut. Seandainya kalian lebih baik dari kaum tersebut, mungkin kalian akan merasa aman dari azab. Akan tetapi, kenyataannya kalian tidak lebih baik dari pada kaum-kaum tersebut. Bahkan, kalian lebih buruk. Karena, telah mendustakan rasul yang terbaik, yaitu nabi Muhammad ﷺ. Apabila kaum ‘Ad dan Tsamud dan sejenis mereka berhak mendapatkan azab, maka kalian pula berhak untuk diberikan azab.”
Tujuan Bencana atau Azab
Betapa sering Allah ﷻ memberikan bencana atau azab, tujuannya adalah sebagai peringatan bagi manusia. Seperti halnya pada zaman sekarang, Allah ﷻ memberikan teguran-teguran maupun bencana kepada sebagian orang maupun kaum, maka bagi kita yang selamat dari bencana tersebut, hendaknya mengambil pelajaran.
Pelajaran dari Bencana
Jangan sampai segala musibah yang menimpa, kita menganggapnya kosong dan lewat begitu saja tanpa mengaitkan dengan dosa-dosa. Apalagi menganggap bahwa itu hanya fenomena atau kejadian alam biasa dan tidak ada kaitannya dengan dosa apa yang kita lakukan. Padahal, Allah ﷻ telah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)
Kerusakan yang Wajar
Hendaknya manusia merasa bersyukur karena Allah ﷻ tidak memberikan kebinasaan, namun hanya kerusakan yang wajar dan masih memberikan keamanan dan keselamatan, agar orang-orang yang cerdas menjadi berpikir dan sadar. Allah ﷻ berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Siapakah yang Menggerakkan Alam?
Oleh karenanya, sungguh menyedihkan jika kemudian terjadi bencana atau musibah, kemudian hanya mengaitkan hal tersebut dengan alam. Memang benar, itu semua merupakan kejadian alam. Akan tetapi, siapakah sejatinya yang menggerakkan alam? Siapakah yang mengatur alam tersebut? Kenapa alam tersebut bisa terjadi demikian? Oleh karenanya, harusnya hal ini mampu memberikan pelajaran bagi orang yang mau berpikir.