Makna Ayat
Para ulama menafsirkan bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk berkata kepada mereka,
مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا
“Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik azab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya.”
Pada ayat ini Allah ﷻ mendatangkan kalimat dengan fi’il amr dalam bentuk sebuah doa فَلْيَمْدُدْ لَهُ مَدًّا yang bermakna “Ya Allah, panjangkanlah umurnya atau masanya sepanjang-panjangnya”. Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama tentang tafsir ayat ini.
Tafsir Ayat
Pertama, ayat ini merupakan ajakan untuk bermubahalah dari Nabi ﷺ kepada orang-orang kafir Quraisy(210 ). Seakan-akan beliau ﷺ mengatakan, “Wahai kaum musyrikin, jika kalian merasa bahwa kalian paling benar karena kondisi kalian yang serba mewah, marilah kita bermubahalah dan berdoa ‘Ya Allah, siapakah di antara kami yang berada di atas kesesatan, maka panjangkanlah umurnya, agar bisa melihat akibat dari kesesatannya, entah azab atau hari kiamat’.” Bisa jadi apa yang dijanjikan kepada mereka di antaranya adalah berupa kekalahan di dalam peperangan atau dihancurkan di dunia. Seandainya mereka di dunia selamat pun, maka mereka akan mendapati hari kiamat, dimana pada saat itu akan dibongkar jati diri dan kesesatan mereka. Saat itu pula mereka mengetahui siapakah yang kedudukannya paling buruk, apakah orang-orang yang beriman atau orang-orang kafir.
Kedua, sebagian ulama yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan doa yang bermakna khabar(211 ). Artinya Nabi ﷺ mengungkapkan dengan untaian doa sekaligus sebagai kabar bahwasanya di antara kebiasaan Allah ﷻ adalah memberi waktu yang panjang kepada orang-orang zalim agar mereka semakin merasakan azab yang pedih, istidraj.
Istidraj
سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ، وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-Qalam : 44-45)
Karena mereka sesumbar dan merasa benar, maka mereka diajak untuk bermubahalah.
Kedudukan Mereka
شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا
“Yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya.”
Artinya merekalah sejatinya yang lebih buruk kedudukannya dan lebih lemah pasukan serta penolongnya. Mereka disebut demikian, karena mereka merasa bangga dengan rumah, harta dan tempat pertemuan yang serba mewah sekaligus memiliki anggota serta pasukan yang banyak, sedangkan di akhirat kelak mereka akan terhina, yaitu pada saat berada di neraka Jahanam.