Makna Ayat
Orang-orang yang Tercela
Setelah Allah ﷻ menyebutkan sepuluh para Nabi tadi dengan mengatakan أُولَئِكَ yang di dalam bahasa kita bermakna isyarat kepada sesuatu yang jauh, kata para ulama ini menunjukkan bahwasanya mereka ‘alaihimussalam berada pada derajat yang tinggi( 148), maka Allah ﷻ menakdirkan datangnya orang-orang yang tercela setelah para nabi tersebut. Siapakah mereka? Ada khilaf di antara para ulama, ada yang mengatakan mereka adalah kaum Yahudi dan Nashoro, ada juga yang mengatakan bahwa mereka adalah umat Nabi Muhammad ﷺ yang lalai dalam mengikuti ajaran Nabi ﷺ, kemudian ada juga mengatakan umum yaitu mencakup seluruhnya(149 ).
Mereka Menyia-nyiakan Shalat
Allah ﷻ berfirman:
أَضَاعُوا الصَّلَاةَ
“Mereka menyia-nyiakan shalat”
Pada ayat ini Allah ﷻ kembali menyifati orang-orang tercela. Allah ﷻ mengatakan bahwa orang-orang yang tercela adalah orang-orang yang menyia-nyiakan shalat. Para ulama khilaf apakah yang dimaksud dengan menyia-nyiakan shalat disini. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah meninggalkan shalat sama sekali, sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah termasuk orang-orang yang shalat tetapi tidak memenuhi rukun, syarat dan wajibnya shalat.(150 )
Pendapat Ulama
Pendapat yang mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan menyia-nyiakan shalat adalah meninggalkan shalat sama sekali, maka sepakat ulama bahwa perbuatan tersebut adalah buruk dan tercela. Oleh karenanya Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang yang tercela, mereka dahulunya termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Sujud merupakan kebiasaan mereka, kepada Allah ﷻ mereka sujud dengan sujud ibadah, dan mereka juga sujud kepada pembesar-pembesar mereka dengan sujud tahiyah yaitu sujud penghormatan.(151 )
Hadist Hudzifah
Selanjutnya Hadist Hudzifah radhiallahu ‘anhu ketika bertemu dengan seseorang yang shalat dengan begitu cepat, maka hudzaifah radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya,
مُنْذُ كَمْ تُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَاةَ ؟ قَالَ: مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ عَامًا، قَالَ: مَا صَلَّيْتَ مُنْذُ أرْبَعِيْنَ سَنَةً وَلَوْ مِتَّ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَاةَ لَمِتَّ عَلَى غَيْرِ فَطْرَةِ مُحَمَّدٍ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ
“Sudah berapa lama kamu melakukan shalat seperti ini?” maka orang ia pun menjawab; ‘sudah empat puluh tahun’, Hudzaifah berkata; ‘Selama ini engkau tidak shalat, jika engkau meninggal sementara cara shalatmu masih seperti ini, maka engkau meninggal dengan tidak di atas fitrahnya (ajaran) Nabi Muhammad ﷺ”(154 ).
Hadist Abu Mas’ud Al-Anshori
Demikian juga hadist dari Abu Mas’ud Al-Anshori, bahwa Rasululla ﷺ bersabda:
لَا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقِيمُ فِيهَا الرَّجُلُ يَعْنِى صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”.(155 )
Siksaan di Neraka
Allah ﷻ berfirman:
فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka mereka kelak akan menemui kesesatan”
Secara bahasa غَيًّا bermakna kesesatan. Adapun yang dimaksud dengan kesesatan disini, menurut sebagian ulama adalah akibat dari kesesatan seseorang yaitu azab yang pedih. Sebagian lagi mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lembah yang sangat dalam di Neraka Jahannam.(159 )
Makna Ayat
Intinya, walaupun ulama berselisih pendapat tentang makna غَيًّا pada ayat ini, akan tetapi mereka sepakat bahwa yang dimaksud adalah siksaan yang pedih, yang berarti makna dari ayat adalah orang-orang yang meninggalkan shalat karena mengikuti syahwat akan di azab dengan azab yang pedih.