Makna Ayat
Ayat ini menunjukkan bahwasanya dunia yang engkau lihat begitu indah sekarang ini yang dipenuhi dengan kemewahan dan perhiasan dunia sebagaimana sabda Nabi ﷺ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau” ( 39), manis untuk dirasakan dan hijau untuk dilihat, keindahan itu semua akan sirna. Peringatan bahwa keindahan dunia akan sirna juga Allah sebutkan dalam firmanNya :
Perumpamaan Kehidupan Dunia
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur dengannya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS Al-Kahfi: 45)
Kehidupan Dunia
Demikianlah kehidupan dunia, warnanya hijau dan enak dipandang bagaikan perhiasan namun suatu saat ia akan sirna, oleh karena itu Allah menamakan keindahan/kemewahan sebagai زَهْرَة الْحَيَاةِ الدُّنْيَا “Bunga (mawar) kehidupan dunia”, Allah berfirman:
Peringatan
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami menguji mereka dengannya”.(QS Thaha:131)
Kehidupan Dunia
Dalam ayat ini, Allah menamakan dunia dengan زَهْرَة, yaitu bunga yang indah dipandang, harum dicium. Demikianlah kehidupan dunia akan tetapi ia sangat mudah layu, jika kita petik bunga mawar maka akan sangat cepat ia menjadi layu. Jika kita petik maka tidak lama kemudian ia akan rusak dan demikianlah kehidupan dunia. Sifat kehidupan dunia adalah tidak kekal, dunia itu فَانِيَةٌ زَائِلَةٌ sementara dan segera sirna. Demikianlah dunia, kalaulah bukan dunia yang sirna maka kita (penghuninya) yang akan segera sirna. Oleh karena itu Allah ingatkan: wahai Muhammad Kami ciptakan kehidupan dunia dan keindahan di atas muka dunia sebagai ujian sehingga ada yang beriman dan ada yang tidak beriman, ada yang bagus amalannya dan ada yang tidak bagus amalannya, namun ingatlah seluruh keindahan dunia ini akan sirna dan akan hilang. (40 )
Peringatan
Maka pada ayat ini terdapat peringatan bahwa kita semua akan diuji dan janganlah terperdaya dengan dunia, orang yang memandang dunia secara zhahirnya -yang حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ manis dirasa dan hijau dipandang- saja maka ia akan terperdaya, maka ia akan memasukkan dunia ke dalam hatinya. Seseorang jika ia begitu mencintai dunia sedalam-dalamnya maka ia enggan dan berat untuk meninggalkan dunia ini, karena begitu keindahan dunia telah merasuk hatinya. Jadilah orang tersebut tidak ingin mati bukan dikarenakan takut akan amalnya yang buruk di dunia, bukan karena takut akan hisab pada hari kiamat, akan tetapi karena ia sedih akan meninggalkan keindahan dunia ini yang telah merasuk di hatinya. Adapun orang beriman jika ia meninggal ia khawatir akan hisab pada hari kiamat kelak.
Ujian
Lalu Allah mengingatkan bahwasanya dijadikan perhiasan dunia dan isi dunia adalah untuk menguji sebagaimana yang telah Allah firmankan:
Kualitas Amal
لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“…agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.
Yang dijadikan patokan oleh Allah bukanlah banyaknya (kuantitas) amalan akan tetapi الْجَوْدَة kualitas, yaitu amal yang terbaik adalah amal yang berkualitas. Karenanya terlalu banyak dalil tentang amalan yang sedikit akan tetapi bernilai besar di sisi Allah Ta’ala.
Kisah Sa’ad bin Mu’adz
Diantaranya sabda Nabi ﷺ tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu :
اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَن لِمَوْتِ سَعْد بْنِ مُعَاذٍ
“Arsy Ar-Rahman (Allah) berguncang ketika kematian Sa’ad bin Mu’adz” (41 )
Kualitas Amal
Allahu akbar, lihatlah Arsy berguncang karena wafatnya Sa’ad padahal beliau hanya sebentar masuk Islam, yaitu sekitar 7 atau 8 tahun. Beliau masuk Islam sekitar 2 tahun atau 3 tahun sebelum Nabi ﷺ hijrah lalu wafat pada tahun 5 Hijriyah maka beliau hanya sekitar 7 atau 8 tahun menjalani Islam, namun umur Islam yang sedikit tersebut sudah cukup untuk membuat Arsy Allah bergetar. Oleh karenanya tidak ada kata terlambat, barangsiapa yang telah sampai pada usia tua -meski umurnya tersisa sedikit- maka tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas amalnya.
Kisah Wanita Pezina
Diantara dalil yang menunjukan kualitas amal sangat penting adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ ألْفِ دِرْهَمٍ
“Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham”(42 )
Bagaimana mungkin? Para ulama menjelaskan bahwa adakalanya seorang yang berinfak satu dirham tersebut ia adalah orang yang sangat miskin maka satu dirham tersebut adalah sangat berharga baginya. Lalu ia keluarkan dengan ikhlas karena Allah maka bisa jadi ia mengalahkan yang berinfak seratus ribu dirham yang dikeluarkan oleh orang kaya namun ia kurang ikhlas, yang Allah lihat adalah kualitas sedekahnya dan bukan hanya sekedar kuantitas sedekah.
Kisah Wanita Pekerja
Lihatlah juga kisah wanita pezina yang Allah mengampuni dosa-dosanya karena ia memberikan minum kepada seekor anjing. Nabi bersabda :
بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ
"Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut-pen) lalu memberi minum kepada si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu"(43 )
Kualitas Amal
Diantara dalil yang menunjukan pentingnya kualitas amal, Nabi ﷺ menyebutkan tentang kisah seseorang di perang Uhud yang tiba-tiba masuk Islam lalu ia meninggal dunia dan dijamin masuk surga walaupun tidak pernah sujud sekalipun(45 ). Oleh karena itu intinya adalah kualitas amalan, itulah yang dilihat oleh Allah. Namun jika seseorang bisa menggabungkan antara kualitas dengan kuantitas maka itulah yang terbaik, sebagaimana Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang menggabungkan antara kualitas dengan kuantitas(46 ). Akan tetapi jika seseorang tidak mampu maka perhatikan kualitas karena itulah yang lebih utama daripada kuantitas. Karenanya tidak ada kata terlambat dalam beramal shalih. Barangsiapa yang telah dapat hidayah maka ketika ia telah berhijrah maka alangkah baiknya jika ia berusaha kuat agar terus beribadah dan meningkatkan kualitas yang terbaik karena yang Allah lihat adalah kualitasnya. Janganlah kita terlalu terperdaya dengan kuantitas namun tidak berkualitas.
Kualitas Amal
Fudhail bin ‘Iyad ketika ditanya tentang amalan yang terbaik maka beliau jawab:
أَخْلَصُهُ وَأصْوَبُهُ
“Yang paling ikhlas dan yang paling tepat (dengan Sunah Nabiﷺ)” (47 ), itulah makna dari ayat
لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“…agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.
Kualitas Amal
Seseorang dalam beramal hendaknya ia perhatikan apakah amalnya sesuai dengan sunnah Nabi?, dipraktikan Nabi dan para sahabatnya?. Jika tidak maka hendaknya ia berusaha memperbaiki amalnya agar sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga amalnya berkualitas. Betapa banyak orang melakukan banyak amalan akan tetapi tidak berkualitas, yaitu tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Zuhud
Sebagian ulama menafsirkan “amalan yang terbaik” dengan “yang paling zuhud terhadap dunia” karena dunia itu indah, terlihat begitu menyenangkan dan dirasakan begitu manis. Zuhud maknanya bukanlah tidak memiliki uang akan tetapi zuhud adalah bagaimana sikap hati terhadap dunia. Terlalu banyak dalil yang memerintahkan kita untuk berinfak, ini menunjukkan seorang sepatutnya memiliki harta. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah dunia tersebut berada di hati kita atau tidak?”, “Apakah mengeluarkan uang terasa berat atau sebaliknya?”. Adakalanya orang kaya raya akan tetapi dunia tidak berada di hatinya, sehingga begitu mudah baginya untuk bersedekah. Sebaliknya adakalanya seseorang miskin akan tetapi dunia berada dalam hatinya sehingga ia sangat mencintai dunia. Oleh karena itu yang menjadi patokan zuhud adalah bagaimana hati dia terhadap dunia.
Kisah Ashabul-kahf
Kemudian Allah melanjutkan pada ayat yang selanjutnya, mulailah Allah bercerita tentang kisah “Ashabul-kahf”.